This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 19 Juli 2016

Glikogenolisis

Hasil gambar untuk Glikogenolisis

Glikogenolisis adalah lintasan metabolisme yang digunakan oleh tubuh, selain glukoneogenosis, untuk menjaga keseimbangan kadar glukosa di dalam plasma darah untuk menghindari simtoma hipoglisemia. Pada glikogenolisis, glikogen digradasi berturut-turut dengan 3 enzim, glikogen fosforilase, glukosidase, fosfoglukomutase, menjadi glukosa. Hormon yang berperan pada lintasan ini adalah glukagon dan adrenalin.

Glikogenolisis merupakan proses pemecahan glikogen menjadi glukosa yang terjadi terutama di hati dan otot.  Glikogen akan dipecah apabila kadar gula dalam darah rendah dan ketika sedang berolahraga. Glikogenolisis dipicu oleh kerja hormon adrenalin dan glukagon, berkebalikan dengan insulin yang akan mempengaruhi pembentukan glikogen melalui glikogenesis 

Enzim glikogen fosforilase akan menambahkan fosfat anorganik dan membebaskan glukosa dalam bentuk glukosa 1-fosfat. Pemecahan ini akan terus berlangsung hingga tersisa kurang lebih 4 residu glukosa dari titik cabang. Enzim transferase akan memindahkan 3 residu glukosa menuju ujung cabang yang lain, proses ini akan menyisakan satu residu glukosa pada titik cabang yang terikat dengan ikatan α 1-6 glikosidik. Debranching enzyme atau enzim pemecah cabang (α 1-6 glukosidase) akan membebaskan glukosa pada titik cabang dan melepaskannya dalam bentuk glukosa (bukan glukosa 1-fosfat seperti pada reaksi pertama).

Proses glikogenolisis berakhir pada tahapan diatas, namun hasil pemecahan glikogen yang berupa glukosa 1-fosfat akan mengalami proses lebih lanjut agar dapat berubah menjadi glukosa.
Enzim fosfoglukomutase akan mengkatalisis reaksi isomerasi glukosa 1-fosfat menjadi glukosa 6-fosfat. Dalam hati dan ginjal glukosa 6-fosfat akan mengalami pelepasan fosfat dan berubah menjadi glukosa. Namun di dalam otot glukosa 6-fosfat akan langsung masuk reaksi glikolisis untuk diolah menjadi energi dalam bentuk ATP.

Tatalaksana Keloid

Hasil gambar untuk keloid

Keloid merupakan bekas luka hipertrofik. Keloid biasanya warnanya merah muda sampai coklat tua. Keloid tidak menular dan tidak berbahaya, hanya saja tampaknya bisa mengganggu dan rasanya bisa agak gatal. Yang memiliki keloid biasanya orang berkulit gelap dan jarang ditemukan pada orang berkulit terang dan merupakan hal yang menurun, tetapi tidak dominan, sehingga anak-anak dari salah satu orang tua yang terkena keloid, hanya beberapa yang juga terkena keloid dan biasanya lebih ringan.

Keloid tidak dapat disembuhkan sama sekali, tetapi dapat dikurangi, sehingga penampilannya menjadi lebih baik. Beberapa cara tersebut antara lain: 

1. Injeksi steroid intra lesi: Triamsinolon asetonid dapat menghambat sintesis kolagen dan pertumbuhan fibroblas secara invitro, triamsinolon asetonid dapat menurunkan TGF β. Dengan menurunnya TGF β akan menyebabkan ekspresi fibroblas dalam menghasilkan kolagen berkurang, selain itu kulit akan menjadi lebih lunak dikarenakan fibroblas berpoliferasi menjadi miofibroblas yang menyebabkan kontraksi pada luka dihambat pembentukannya.

2. Pembedahan (eksisi): Tindakan ini mungkin berhasil dengan memuaskan, namun demikian berpotensi menimbulkan kekambuhan.

3. Krioterapi: Digunakan pada lesi yang berukuran kecil, penggunaannya dapat mengurangi nyeri akibat injeksi dan memperpanjang masa penyembuhan.

4. Radioterapi: dapat menyebabkan terjadinya eritema dan hiperpigmentasi 

5. Laser: Penggunaan laser tidak cukup memuaskan, terapi laser menggunakan karbondioksida dan argon dapat memicu kekambuhan hingga 90 %. Namun demikian, hasil trapi dengan penggunaan pulsed dye laser yang mempunyai panjang gelombang 585nm. Penggunaan pulsed dye laser menghambat regulasi dari TGF β, dan meningkatkan regulasi dari metalproesterase MMP-13 yang akan menekan proliferasi fibroblas keloidal sebaik menginduksi apotosis 

6. Silikon Bel Sheet: Penggunaan lembaran silikon gel sheet akan memberikan penghalang terhadap oklusi dan melunakkan bekas luka, juga mengurangi eritem.

7. Imiquimod: merupakan imunomodulator topikal sebagai terapi bagian luar genital & perianal. Imiquimod berperan melalui tol-like receptor 7 yang berperan dalam proses apregulasi sitokin proinflamasi seperti TNF α yang berperan dalam penurunan sintesis kolagten dan fibroblas.

8. Bleomisin: Suatu agen kemoterapi penyakit kanker, mempunyai efek menghalangi siklus sel, menurunkan DNA dan RNA dan menghasilkan ROS.

9. Imerferon α 2b: suatu sitokin yang memodulasi aktivitas faktor pertumbuhan dan telah terbukti memilii efek antiproliferatif dan antifibrolitik 

Pemeriksaan HDL, LDL, Trigliserida Dan Kolestrol Total


Hasil gambar untuk Pemeriksaan HDL, LDL, Trigliserida Dan Kolesterol Total

Kolesterol adalah metabolit yang mengandung lemak sterol yang ditemukan pada membran sel dan disirkulasikan dalam plasma darah. Merupakan sejenis lipid yang merupakan molekul lemak atau yang menyerupainya. Kolesterol ialah jenis khusus lipid yang disebut steroid.

Hiperkolesterolemia berarti bahwa kadar kolesterol terlalu tinggi dalam darah. Tingginya kadar kolestrol dalam tubuh menjadi pemicu munculnya berbagai penyakit. Akan tetapi, tidak semua kolestrol berdampak buruk bagi tubuh. Hanya kolestrol yang termasuk kategori LDL saja yang berakibat buruk, sedangkan jenis kolestrol HDL merupakan kolestrol yang dapat melarutkan kolestrol jahat dalam tubuh. Sebenarnya Serat apapun (Oats, Sayur, Buah) akan mengikat sebagian lemak dan dibuang bersama BAB, tetapi yang lebih utama adalah pengaturan makanan (diet).

Sebenarnya 70 persen Kadar Kolesterol dipengaruhi oleh Enzim Tubuh di Hati, tetapi Lemak Jenuh Berantai Panjang akan memperburuk Kadar Kolesterol dan terutama Lemak Trans yang Berantai Menengah, tetapi bersifat Stabil, tidak mudah/dapat memecah menjadi Rantai Pendek. Tidak ada salahnya Screening Kolesterol mulai pada usia 9 tahun, cukup Pemeriksaan Kolesterol Total saja dan jika Kolesterol Totalnya melebihi 200, maka perlu lanjutan Pemeriksaan Kolesterol LDL (HDL tidak perlu dulu) dan juga Pemeriksaan Triglyceride.

Pemeriksaan Kadar Kolesterol Total dan Trigliserida

Pada prinsip tes kolesterol total dan tes trigliserida dilakukan metode kolorimetrik enzimatik dimana intensitas warna yang terbentuk dapat ditentukan dengan mengukur absorbansnya pada rentang panjang gelombang 480-550 nm dan intensitas warna yang terbentuk ditentukan dengan fotometri. Untuk pemeriksaan ini pasien disuruh untuk puasa minimal 12 jam atau maksimal 14 jam, sampel darah diperoleh melalui vena punksi pada vena mediana cubiti dengan menggunakan disposible syringe 10 cc. Diambil darah sebanyak 5 mLtanpa antikoagulan agar darah dapat membeku kemudian disentrifuge 3000 rpm selama 10 menit untuk mendapatkan serum. Setelah itu serum dipisahkan dari bekuan darah dan siap untuk dilakukan pemeriksaan kadar kolesterol total dan kadar trigliserida.

Interpretasi hasil laboratorium untuk tes trigliserida, dikatakan normal jika nilainya <150 mg/dL dan dikatakan tinggi jika nilainya adalah >200-499 mg/dL, sedangkan untuk tes kolesterol total, pada orang dewasa dikatakan normal jika nilainya 140-199 mg/dL dan tinggi jika nilainya >240 mg/dL.

Pemeriksaan Kadar HDL dan LDL

Kolesterol yang berikatan dengan HDL sebagai pembawa memiliki efek positif bagi tubuh, sehingga disebut kolesterol baik. Kolesterol HDL dapat membersihkan plak yang berada di arteri dan membawanya ke hati untuk dikeluarkan dan digunakan kembali oleh tubuh. Kadar HO2-C yang tinggi memberikan efek perlindungan terhadap penyakit kardiovaskuler dari rendahnya HDL – C ( kurang dari 40 mg/dl ) meningkatkan resiko penyakit jantung.

Uji atau pengukuran nilai LDL perlu dilakukan untuk mengetahui risiko terkena penyakit jantung. Uji LDL umumnya dilakukan sebagai bagian dari pengukuran kolesterol total, lipoprotein densitas tinggi (HDL), dan trigliserida. Hasil pengukuran LDL yang sehat umumnya berkisar kurang dari 100 mg/dL (kurang dari 70 mg/dL untuk individu yang memiliki riwayat penyakit jantung atau memiliki risiko sangat tinggi terkena penyakit aterosklerosis. Sebelum melakukan pemeriksaan LDL, penggunaan obat apapun harus dihentikan sementara dan tidak diperbolehkan makan-minum selama 9-12 jam. Darah akan diambil dari vena, umumnya pada bagian siku atau bagian belakang tangan.

Uji Karbohidrat (Molisch, Benedict, Fehling, Iodium)


Hasil gambar untuk uji karbohidrat

Karbohidrat adalah molekul organik berfungsi sebagai penyedia sejumlah energi yang bermakna dalam makanan untuk sebagian besar organisme, berperan sebagai cadangan energi di dalam tubuh. Rumus empiris untuk bebagai karbohidrat sederhana adalah (CH2O)n3 pada n ≥ 3.

Karbohidrat bisa dilakukan dengan berbagai cara tergantung tujuannya seperti uji molisch oleh asam sulfat pekat akan dihidrolisa menjadi monosakarida dan selanjutnya monosakarida mengalami dehidrasi oleh asam sulfat menjadi furfural atau hidroksi metil furfural. Furfural atau hidroksil metil furfural dengan α-naftol akan berkondensasi membentuk senyawa kompleks yang berwarna ungu. Apabila pemberian asam sulfat pada larutan karbohidrat yang telah diberi α-naftol melalui dinding gelas dan secara hati-hati maka warna ungu yang terbentuk berupa cincin pada batas antara larutan karbohidrat dengan asam sulfat pekat. Dehidrasi pentosa oleh asam akan dihasilkan furfural, dehidrasi heksosa menghasilkan hidroksi metil furfural dan dehidrasi ramnosa menghasilkan metil furfural.

Pada uji Benedict, pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam gugus aromatik, dan alpha hidroksi keton. Oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif dengan pereaksi. Pereaksi Benedict terdiri dari tembaga sulfat dalam  larutan  natrium karbonat dan natrium sitrat yang dapat mereduksi glukosa. Dimana glukosa terlebih dahulu dioksidasi dalam bentuk garam asam glukoronat. Reaksi ini juga akan membentuk endapan merah bata Cu2O dan produk oksidasi lainnya.

Pada uji Fehling, larutan fehling yang terdiri dari campuran kupri sulfat, Na-K-tartrat dan NaOH dengan gula reduksi dan dipanaskan akan terbentuk endapan yang berwarna hijau, kuning-orange atau merah bergantung dari macam gula reduksinya (Sudarmaji, 1984). Fehling dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu senyawa mengandung karbonil aldehid atau keton. Kompleks bistartratokuprate(II) dalam larutan Fehling merupakan bahan pengoksidasi dan reagen aktif dalam uji tersebut. Senyawa yang akan diuji ditambahkan ke larutan Fehling dan campuran ini dipanaskan. Aldehida yang teroksidasi, memberikan hasil yang positif, namun keton tidak bereaksi, kecuali mereka adalah alfa-hidroksi-keton. Kompleks bistartratokuprat(II) mengoksidasi aldehid pada satu anion karboksilat, dan dalam proses ion tembaga(II) dari kompleks ini direduksi menjadi ion tembaga(I). Oksida tembaga(I) yang merah kemudian mengendap dari campuran reaksi, yang menunjukkan hasil positif, yaitu reaksi redoks telah berlangsung. Sebuah hasil yang negatif apabila tidak terjadi endapan merah; ini penting untuk diperhatikan bahwa Fehling tidak akan bekerja dengan aldehid aromatik; sehingga reagen Tollens harus digunakan. Uji Fehling dapat digunakan sebagai uji generik untuk monosakarida. Hal ini akan memberikan hasil positif untuk monosakarida “aldosa”(karena gugus aledehida dapat dioksidasi) tetapi juga untuk monosakarisa “ketosa”, karena mereka diubah menjadi aldosa oleh basa dalam reagen tersebut, dan kemudian memberikan hasil positif. Untuk alasan ini, reagen Fehling kadang-kadang disebut sebagai uji umum untuk monosakarida

Selanjutnya uji iodium yang bertujuan untuk memisahkan antara polisakarida, monosakarida dan disakarida. Iodium memberikan warna kompleks dengan polisakarida. Amilum memberikan warna biru pada iodium, sedangkan glikogen dan tepung yang sudah dihidrolisis sebagian (eritrodekstrin) memberikan warna merah sampai coklat dengan iodium. Pada percobaan yang telah dilakukan, lima senyawa yang diujikan menghasilkan warna iodium yaitu merah pekat, hanya dekstrin yang menghasilkan warna coklat pekat. Berbeda dengan teori, justru amilum tidak memberikan warna biru, hal ini dikarenakan larutan amilum yang akan diujikan tidak diaduk terlebih dahulu, akibatnya larutan amilum mengendap sehingga tidak menghasilkan warna seharusnya. Dengan demikian, percobaan ini membuktikan bahwa glukosa, fruktosa, laktosa, sukrosa bukanlah polisakarida, dan dekstrin termasuk pada polisakarida. Sedangkan terjadi sedikit kesalahan pada prosedur kerja untuk uji iodium pada senyawa amilum. Hal ini tidak berlaku untuk jenis-jenis sakarida yang lain seperti monosakarida, disakarida, dan oligosakarida karena struktur mereka masih sederhana.Dengan demikian pada percobaan tes iodium terbukti bahwa amilum dan kanji adalah polisakarida. Karena hanya polisakarida yang bisa cepat bereaksi dengan iodium dengan memberikan perubahan warna yang kompleks. 

Pemeriksaan Total Protein Dan Albumin


Hasil gambar untuk Pemeriksaan Total Protein Dan Albumin

Protein total adalah kadar semua jenis protein yang terdapat dalam serum/plasma, yang terdiri atas albumin, globulin dan lain fraksi yang (protein yang kadarnya sangat rendah). Pemeriksaan protein total berguna untuk memonitor perubahan kadar protein yang disebabkan oleh berbagai macam penyakit. Biasanya diperiksa secara bersama-sama dengan pemeriksaan lain. Misalnya kadar albumin, faal hati, atau pemeriksaan elektroforesis protein. Rasio albumin/globulin diperoleh dengan perhitungan dan dapat memberikan keterangan tambahan. Kadar protein total meningkat pada keadaan dehidrasi, multiple myeloma dan penyakit hati menahun, merendah pada penyakit ginjal dan stadium akhir gagal hati.

Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen. Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Di dalam ilmu kedokteran, albumin ini dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi atau pembedahan. Pada masa krisis saat ini, impor serum albumin yang dimanfaatkan sering membebani biaya pasien. Untuk satu kali pembedahan, penggunaan serum ini bisa mencapai tiga kali 10 mililiter itu.

Albumin berfungsi sebagai transport berbagai macam substansi termasuk bilirubin, asam lemak, logam, ion, hormone, dan obat-obatan. Salah satu konsekuensi dari hipoalbumin adalah obat yang seharusnya berikatan dengan protein akan berkurang, di lain pihak obat yang tidak berikatan akan meningkat, hal ini akan meningkatkan kadar obat dalam darah.

Ukuran tingkat protein total sendiri kemungkinan tidak diketahui, tetapi dapat dinormalkan dengan adanya perubahan nilai unsur pokok protein. Contohnya menurunnya albumin distabilkan dengan naiknya tingkat immnoglobin ini merupakan kombinasi yang sudah lazim. Hiperalbuminae kemungkinan tidak terjadi, dan naiknya konsentrasi albumin hanya dialami pada keadaan dehidrasi yaitu untuk mereduksi kadar cairan plasma, sebagai akibat dari statis vena. Hipoalbuminaemia terjadi sebagai akibat dari overdehidrasi, kelebihan protein, pengurangan sintesis pada defisiensi makanan, penyakit hati, serta meningkatnya katabolisme.